Tebing Karaton, berderu-deru mendengar kabar tentang euforia tujuan perjalanan wisata di Bandung itu, secara saya memang orang Bandung. Apalagi letak lokasi, yang dulu bernama Cadas Jontor itu, sama-sama dalam satu wilayah admistrasi Kabupaten Bandung, tempat saya berdomisili. Mungkin justru karena merasa sebagai "penguasa daerah," saya menganggap keindahan tempat itu tidak bakal asing bagi pengalaman saya. Sejak 30 tahun lalu, saya sudah akrab dengan tempat praktikum kuliah biologi, Taman Hutan Raya Djuanda, kawasan hutan lindung tempat tebing ini berada. Apa sih anehnya, pasti biasa-biasa saja, pikir ku.
Dalam sejarah hidup saya di cekungan Bandung sejak 1986, saya sering kali menjelajah relung lembah dan bukit dataran tinggi ini. Terakhir saya menjajaki kemungkinan untuk memandu kegiatan coffee tour di kaki gunung Tangkubanperahu, Kabupaten Bandung Barat. Sebelumnya saya pernah melakukan survei ecoedutainment di Desa Cibodas, Maribaya, yang tidak jauh dari Tebing Karaton (jika mampu melintas kerimbunan hutan dan ketajaman lereng). Dari Desa Cibodas, kita pun bisa melihat panorama alam nan permai, seperti tebing sesar Lembang dan hamparan sajadah hutan pinus yang diselipi kabut. Kemolekan Bandung mana lagi yang saya tidak pernah lihat?
Apalagi kini ada Google Maps, kita dapat berpetualang secara virtual, melalui foto satelit, dilengkapi gambar dari kamera on the spot kiriman dari penguna internet dari mana saja. Dari kesaksian mereka yang datang ke Tebing Karaton pun saya melihat foto-foto yang tidak asing bagi saya.
Namun demikian, saya akan mengalami pecah telur, karena pada 1 Mei 2016, saya akan menjejakkan kaki pertama kali di Tebing Karaton karena akan mengikuti acara Pelantikan "Forum Pelestari dan Peduli Burung-burung Liar di Jawa Barat." Kejutan bagi saya adalah bahwa ternyata Tebing Karaton merupakan lintasan migrasi burung pemangsa (raptor). Ada elang yang bermigrasi lintas benua singgah di Bandung sini. Yah, itu hal baru dan sangat menarik daripada sekadar pemandangan hutan dan kota dari ketinggian. Ok Tebing Karaton, I am coming.
Maka mulai lah muncul rasa penasaran ihwal nama Tebing Karaton yang merupakan versi kekinian dari Cadas Jontor. Rupanya ada kisah mistis di seputar penamaan. Ada keraton alam ghaib di daerah yang termasuk kecamatan Cimenyan itu, kata banyak pengisah. Kisah itu konon sering keluar dari mereka yang kesurupan. Ada pula yang menyatakan bahwa mendapatkan bisikan agar batu alam itu dinamai tebing keraton. Seorang di antaranya adalah Pak Ase warga kampung Ciharageum desa Ciburial.
Bagi saya, kisah ghaib hikmahnya adalah agar orang memberikan perhatian
ekstra dan kehati-hatian. Tebing Karaton adalah nama baru yang konon berasal
dari beberapa kisah sepola yang dikaitkan dengan fenomena alam ghaib yang
dialami beberapa orang di saat trance atau muncul di alam bawah sadar orang yang
mengalami mimpi. Tempat ini diliat dari struktur geomorfismenya cukup ekstrim
yang oleh masyarakat dinamai bukit jontor. Dengan berjalannya waktu, kearifan
lokal di sini telah mengantarkan kita kepada penamaan yang lebih kuat untuk
mendapatkan perhatian dari pengunjung yang datang jauh2 dari tempat2, yg
mungkin memiliki wawasan budaya yg berbeda, untuk menikmati keindahan alam ini.
Kearifan lokal yang terkandung di dalam nama Tebing Karaton ini telah
memberikan hikmah dan manfaat bagi masyarakat.
![]() |
| di Tahura Djuanda dekat Tebing Karaton |

0 komentar:
Posting Komentar