Senin, 02 Mei 2016

Data Tebing Karaton

Tebing Karaton, begitu lah nama tempat itu diresmikan oleh Gubernur Jawa Barat Ahmad Heryawan, hari ini. Tempat ekowisata, yang mulai ngetrend sejak 2014 itu, tepatnya bertempat di Taman Hutan Raya  (Tahura) Ir. Djuanda, Desa Ciburial Kecamatan Cimenyan Kabupaten Bandung.
Menurut Google Trend, tempat yang dahulu bernama Gawir jontor ini, mulai terdata pada 2014. Pada tahun itu data melejit dan surut dan stabil di waktu-waktu berikutnya. Saya menduga, setelah diresmikan dengan nama yang lebih nyunda Tebing Karaton, dan diresmikan pula sebagai lokasi pengamatan burung migran dunia, data akan kembali merangkak naik.
Menurut Google Trend, orang yang paling banyak menggali dan menemukan data dengan kata kunci tebing keraton, berurutan dari kota yang paling banyak, adalah: Bekasi, Depok, Bandung (sendiri), Jakarta, Tangerang, Sheridan (entah di mana) dan Surabaya.
Yang lebih terkenal dahulu tentu saja adalah Tahura Djuanda. Apa kata Google Trend?
Ternyata ada beberapa Tahura di Indonesia. Kata kunci tahura bandung, tahura dago, dan tahura karanganyar memiliki data cukup untuk ditampilkan di Google Trend. Ada juga data mengenai tahura trail dan tahura park.
Dengan kata kunci hanya "tahura" ternyata warga Bandung menempati urutan nomor 1 dalam aktivitas searching di internet, diikuti Jakarta, Medan, Yogyakarta, Surabaya. Siapakah mereka? Tidak diketahui. Perlu penelitian lebih lanjut untuk mengetahui latar belakang pencari informasi "tahura". Mungkinkah tujuan pencariannya adalah info akademik, piknik, atau "panik" selfie di tempat-tempat adem dan misterius.
Sebagai hutan yang dekat kota, "tahura" adalah tempat unik yang sedikit dapat dijangkau publik.


Rabu, 27 April 2016

Tebing Karaton dan Kisah Mistis

Tebing Karaton, berderu-deru mendengar kabar tentang euforia tujuan perjalanan wisata di Bandung itu, secara saya memang orang Bandung. Apalagi letak lokasi, yang dulu bernama Cadas Jontor itu, sama-sama dalam satu wilayah admistrasi Kabupaten Bandung, tempat saya berdomisili. Mungkin justru karena merasa sebagai "penguasa daerah," saya menganggap keindahan tempat itu tidak bakal asing bagi pengalaman saya. Sejak 30 tahun lalu, saya sudah akrab dengan tempat praktikum kuliah biologi, Taman Hutan Raya Djuanda, kawasan hutan lindung tempat tebing ini berada. Apa sih anehnya, pasti biasa-biasa saja, pikir ku.
Dalam sejarah hidup saya di cekungan Bandung sejak 1986, saya sering kali menjelajah relung lembah dan bukit dataran tinggi ini. Terakhir saya menjajaki kemungkinan untuk memandu kegiatan coffee tour di kaki gunung Tangkubanperahu, Kabupaten Bandung Barat. Sebelumnya saya pernah melakukan survei ecoedutainment di Desa Cibodas, Maribaya, yang tidak jauh dari Tebing Karaton (jika mampu melintas kerimbunan hutan dan ketajaman lereng). Dari Desa Cibodas, kita pun bisa melihat panorama alam nan permai, seperti tebing sesar Lembang dan hamparan sajadah hutan pinus yang diselipi kabut. Kemolekan Bandung mana lagi yang saya tidak pernah lihat?
Apalagi kini ada Google Maps, kita dapat berpetualang secara virtual, melalui foto satelit, dilengkapi gambar dari kamera on the spot kiriman dari penguna internet dari mana saja. Dari kesaksian mereka yang datang ke Tebing Karaton pun saya melihat foto-foto yang tidak asing bagi saya.
Namun demikian, saya akan mengalami pecah telur, karena pada 1 Mei 2016, saya akan menjejakkan kaki pertama kali di Tebing Karaton karena akan mengikuti acara Pelantikan "Forum Pelestari dan Peduli Burung-burung Liar di Jawa Barat." Kejutan bagi saya adalah bahwa ternyata Tebing Karaton merupakan lintasan migrasi burung pemangsa (raptor). Ada elang yang bermigrasi lintas benua singgah di Bandung sini. Yah, itu hal baru dan sangat menarik daripada sekadar pemandangan hutan dan kota dari ketinggian. Ok Tebing Karaton, I am coming.
Maka mulai lah muncul rasa penasaran ihwal nama Tebing Karaton yang merupakan versi kekinian dari Cadas Jontor. Rupanya ada kisah mistis di seputar penamaan. Ada keraton alam ghaib di daerah yang termasuk kecamatan Cimenyan itu, kata banyak pengisah. Kisah itu konon sering keluar dari mereka yang kesurupan. Ada pula yang menyatakan bahwa mendapatkan bisikan agar batu alam itu dinamai tebing keraton. Seorang di antaranya adalah Pak Ase warga kampung Ciharageum desa Ciburial.
Bagi saya, kisah ghaib hikmahnya adalah agar orang memberikan perhatian ekstra dan kehati-hatian. Tebing Karaton adalah nama baru yang konon berasal dari beberapa kisah sepola yang dikaitkan dengan fenomena alam ghaib yang dialami beberapa orang di saat trance atau muncul di alam bawah sadar orang yang mengalami mimpi. Tempat ini diliat dari struktur geomorfismenya cukup ekstrim yang oleh masyarakat dinamai bukit jontor. Dengan berjalannya waktu, kearifan lokal di sini telah mengantarkan kita kepada penamaan yang lebih kuat untuk mendapatkan perhatian dari pengunjung yang datang jauh2 dari tempat2, yg mungkin memiliki wawasan budaya yg berbeda, untuk menikmati keindahan alam ini. Kearifan lokal yang terkandung di dalam nama Tebing Karaton ini telah memberikan hikmah dan manfaat bagi masyarakat.
di Tahura Djuanda dekat Tebing Karaton